Panduan Investasi Properti: Pengertian, Jenis & Caranya
Panduan lengkap investasi properti: pengertian, jenis, cara memulai, risiko, dan tips investasi properti agar aman dan menguntungkan bagi pemula.
Investasi properti adalah salah satu bentuk investasi yang populer karena dianggap relatif stabil dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang. Bukan hanya soal membeli rumah atau apartemen, tapi juga meliputi strategi memiliki aset fisik yang bisa menghasilkan pemasukan pasif atau keuntungan dari kenaikan nilai aset.
Kalau kamu pernah dengar orang bilang “beli tanah nggak akan rugi”, itu karena nilai properti cenderung naik seiring waktu, terutama di lokasi strategis. Tapi seperti investasi lainnya, investasi properti tetap punya risiko yang perlu dikelola dengan bijak.
Baca juga: Anuitas: Pengertian, Jenis, Rumus, dan Contoh Perhitungannya
Pengertian Investasi Properti
Secara sederhana, investasi properti adalah kegiatan membeli, memiliki, atau mengelola aset properti untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan ini bisa berasal dari:
- Capital gain: Kenaikan nilai jual properti dari waktu ke waktu
- Passive income: Pemasukan rutin dari sewa properti
Contoh sederhananya, kamu membeli rumah seharga Rp800 juta, lalu beberapa tahun kemudian nilainya naik menjadi Rp1,2 miliar. Atau, kamu menyewakan apartemen dengan tarif Rp5 juta per bulan sehingga mendapatkan pendapatan rutin.
📌 Data menarik: Menurut data Bank Indonesia, harga properti residensial di Indonesia tumbuh rata-rata 1,5–2,5% per tahun selama 5 tahun terakhir, bahkan bisa lebih tinggi di area berkembang.

Jenis-Jenis Investasi Properti
Agar lebih mudah memilih, berikut adalah beberapa jenis investasi properti yang umum di Indonesia, lengkap dengan kelebihan dan pertimbangannya:
1. Properti Residensial
Contohnya rumah tapak, apartemen, atau kos-kosan. Jenis ini paling populer karena pasarnya luas, bisa dijual kembali saat harga naik atau disewakan untuk mendapatkan penghasilan rutin. Rumah tapak biasanya menawarkan potensi kenaikan harga (capital gain) lebih tinggi dalam jangka panjang, sementara apartemen dan kos-kosan bisa memberikan arus kas bulanan yang lebih cepat.
📌 Contoh: Membeli apartemen di dekat kampus lalu menyewakannya ke mahasiswa, atau membangun rumah kontrakan di area padat penduduk.
2. Properti Komersial
Meliputi ruko, kios, gedung perkantoran, atau hotel. Jenis ini biasanya membutuhkan modal besar, tapi potensi imbal hasilnya bisa sangat tinggi jika berada di lokasi strategis dengan aktivitas bisnis yang ramai. Properti komersial juga cenderung memiliki kontrak sewa jangka panjang, sehingga pendapatan lebih stabil.
📌 Contoh: Menyewakan ruko di kawasan perbelanjaan, atau mengelola co-working space di area bisnis yang sedang berkembang.
3. Tanah
Investasi tanah sering dianggap “tidur tapi menghasilkan”, karena nilainya hampir selalu naik seiring waktu, terutama jika area tersebut mulai dilirik pengembang atau mengalami pembangunan infrastruktur. Tanah tidak memerlukan biaya perawatan besar, tapi perlu kesabaran karena biasanya butuh waktu lama untuk dijual dengan keuntungan optimal.
📌 Contoh: Membeli tanah di pinggiran kota yang dekat dengan rencana pembangunan jalan tol atau transportasi massal.
4. Properti Industri
Meliputi gudang, pabrik, atau lahan industri. Potensinya besar, terutama jika lokasinya dekat pelabuhan, kawasan pergudangan, atau pusat distribusi logistik. Jenis ini sering menarik minat perusahaan besar yang membutuhkan fasilitas penyimpanan atau produksi, sehingga bisa menghasilkan kontrak sewa bernilai tinggi.
📌 Contoh: Menyewakan gudang di dekat kawasan industri Cikarang atau Karawang yang punya akses mudah ke pelabuhan.
💡 Tips: Saat memilih jenis investasi properti, pastikan pilihanmu sesuai dengan modal awal, tujuan investasi, dan toleransi risiko. Untuk investasi yang melibatkan pembiayaan seperti KPR (Kredit Pemilikan Rumah), jangan lupa cek skor kreditmu lewat Skorlife agar peluang pengajuan kredit disetujui lebih besar.

Cara Memulai Investasi Properti
Banyak yang mengira investasi properti selalu butuh modal besar, padahal ada cara yang bisa disesuaikan dengan kondisi finansial.
- Tentukan Tujuan Investasi
Apakah untuk disewakan, dijual kembali, atau sebagai tabungan masa depan. Tujuan ini akan mempengaruhi jenis dan lokasi properti yang dipilih. - Pilih Lokasi Strategis
Prioritaskan area dekat pusat kota, kampus, rumah sakit, atau transportasi umum. Lokasi menentukan potensi kenaikan nilai dan kemudahan disewakan. - Hitung Kelayakan Finansial
Cek rental yield (persentase pendapatan sewa tahunan dibanding harga properti) untuk melihat seberapa cepat modal bisa kembali. Idealnya minimal 5–7% per tahun. Jangan lupa perhitungkan pajak, biaya perawatan, dan asuransi. - Gunakan Pembiayaan Tepat
KPR bisa membantu, tapi pastikan cicilan tidak lebih dari 30–40% penghasilan bulanan. Bandingkan penawaran bank sebelum memilih. - Periksa Skor Kredit
Skor kredit baik meningkatkan peluang KPR disetujui. Manfaatkan fitur Cek Riwayat Kredit dan Peluang Pengajuan Kredit di Skorlife untuk memastikan kondisi finansial sehat.
Baca juga: Mengenal Rumah Subsidi: Syarat, Kelebihan, & Kekurangannya
Keuntungan Investasi Properti
Banyak orang memilih investasi properti karena keunggulan-keunggulan berikut:
- Nilainya cenderung naik dalam jangka panjang
Terutama jika lokasinya strategis dan kawasan sekitarnya berkembang, kenaikan harga bisa signifikan. - Pendapatan pasif dari sewa
Properti seperti rumah kos, ruko, atau apartemen bisa memberikan cash flow bulanan yang stabil. - Bisa digunakan sebagai jaminan pinjaman
Bank dan lembaga keuangan biasanya menerima properti sebagai agunan untuk KPR lain, modal usaha, atau pinjaman konsumtif. - Tahan terhadap inflasi
Nilai properti dan harga sewa biasanya naik seiring kenaikan biaya hidup, sehingga daya beli aset tetap terjaga.
💡 Tips: Gunakan fitur Cek Riwayat Kredit dan Peluang Pengajuan Kredit di Skorlife sebelum mengajukan KPR, supaya peluang disetujui lebih tinggi dan rencana investasi berjalan lancar.

Risiko Investasi Properti
Meski investasi properti punya potensi cuan besar, tetap ada risiko yang perlu dipahami dan diantisipasi sejak awal:
- Sulit dijual saat pasar lesu
Properti bukan instrumen yang likuid. Jika pasar sedang sepi, butuh waktu lama untuk menemukan pembeli dengan harga yang sesuai. - Biaya perawatan tinggi
Termasuk renovasi, perbaikan, pajak properti, asuransi, hingga biaya perawatan rutin seperti kebersihan dan keamanan. Tanpa perawatan, nilai properti bisa turun. - Penyewa bermasalah
Potensi tunggakan sewa atau kerusakan properti oleh penyewa bisa mengurangi keuntungan. Proses hukum untuk menanganinya juga memakan waktu dan biaya. - Perubahan kebijakan pemerintah
Kenaikan pajak, perubahan aturan tata ruang, atau perizinan baru bisa mempengaruhi nilai properti dan potensi keuntungan.
📌 Solusi: Siapkan dana darurat setidaknya 3-6 bulan untuk menutup cicilan KPR atau biaya perawatan saat properti belum menghasilkan pemasukan.
Baca juga: Cara Memperbaiki Skor Kredit yang Buruk Akibat Pinjol
Kesimpulan
Investasi properti memang terdengar menggiurkan. Siapa sih yang nggak mau punya aset yang nilainya terus naik? Tapi, jangan sampai tergiur tanpa persiapan. Pilih jenis investasi properti yang sesuai modal dan tujuan, pastikan lokasinya strategis, serta sesuaikan dengan kondisi finansial kamu.
Sebelum melangkah, penting banget buat memastikan arus kas sehat, skor kredit oke, dan kamu sudah paham risiko yang mungkin muncul. Nah, biar lebih gampang, kamu bisa pakai SkorPintar dari Skorlife untuk mengelola semua kartu kredit di satu tempat, cek peluang pengajuan kredit disetujui, dan dapat rekomendasi manajemen keuangan. Dengan strategi ini, langkah awal kamu di dunia investasi properti bisa lebih terarah, minim drama, dan tentunya lebih menguntungkan.