Volatility: Pengertian, Penyebab, Jenis & Cara Hitung
Pelajari apa itu volatility, penyebab, jenis, dan cara menghitungnya. Tips kelola risiko & keuangan sehari-hari dengan Skorlife.
Kalau kamu sering pantau pasar saham, valuta asing, atau investasi lainnya, pasti pernah dengar istilah volatility. Tapi apa sebenarnya yang dimaksud? Banyak orang menganggap istilah ini rumit, padahal kalau dipahami, volatility adalah alat penting untuk menilai risiko dan peluang dalam investasi maupun keuangan sehari-hari. Yuk, kita bahas lengkap!
Baca juga: Apa Itu Rebate dan Gimana Cara Kerjanya dalam Dunia Trading
Apa itu Volatility?
Secara sederhana, volatility adalah ukuran seberapa besar harga suatu aset berubah dalam periode tertentu. Bisa naik atau turun, drastis atau perlahan. Misalnya saham, obligasi, reksa dana, bahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Bayangin kamu punya saham senilai Rp100.000. Besok bisa naik ke Rp110.000, tapi bisa juga turun ke Rp90.000. Nah, perbedaan harga ini yang dihitung sebagai volatilitas.
Intinya: semakin tinggi volatilitas, semakin “bergoyang” harga aset itu. Kalau rendah, harga cenderung stabil.

Penyebab Volatility
Banyak faktor dapat mempengaruhi volatilitas, baik di pasar saham, valuta asing, maupun aset lainnya. Berikut beberapa penyebab volatility paling umum:
1. Berita Ekonomi & Politik
Perubahan kebijakan pemerintah, inflasi tinggi, atau suku bunga acuan bisa bikin pasar bergerak cepat. Misalnya, pengumuman BI menaikkan suku bunga bisa bikin harga obligasi turun serta saham tertentu ikut fluktuatif.
2. Kinerja Perusahaan
Laporan laba rugi perusahaan mempengaruhi harga saham. Laba naik drastis biasanya membuat saham naik cepat, sebaliknya, kerugian besar bisa bikin harga jatuh.
3. Sentimen Investor
Pasar nggak cuma dipengaruhi angka, tapi juga psikologi investor. Ketakutan massal atau euforia bisa bikin volatilitas melonjak, bahkan tanpa berita fundamental yang besar.
4. Likuiditas Pasar
Semakin sedikit transaksi suatu aset, semakin sensitif harganya terhadap perubahan. Saham perusahaan kecil biasanya lebih volatil daripada saham perusahaan besar karena volume transaksi lebih rendah.

Jenis-Jenis Volatility
Volatilitas nggak cuma satu jenis. Memahami perbedaan tiap jenis membantu kita menilai risiko serta mengambil keputusan finansial yang lebih tepat. Berikut beberapa yang penting dipahami:
1. Historical Volatility
Ini mengukur fluktuasi harga berdasarkan data masa lalu. Dengan melihat seberapa besar harga bergerak sebelumnya, investor bisa menilai risiko sebelum membeli aset. Misalnya, saham yang sering naik-turun besar cenderung punya historical volatility tinggi.
2. Implied Volatility
Biasanya muncul di pasar opsi atau derivatif. Implied volatility menunjukkan ekspektasi pasar terhadap seberapa fluktuatif harga akan bergerak di masa depan. Jadi, ini bukan catatan historis, tapi prediksi pasar. Semakin tinggi implied volatility, semakin besar ketidakpastian yang diantisipasi investor.
3. Market Volatility
Menggambarkan fluktuasi seluruh pasar, bukan cuma satu aset. Contohnya indeks saham gabungan, atau nilai tukar mata uang yang bergerak naik-turun secara keseluruhan. Market volatility sering dipengaruhi sentimen global, berita ekonomi, dan kondisi geopolitik.
4. Asset-Specific Volatility
Fokus pada satu aset tertentu, misalnya emas, saham blue-chip, atau obligasi pemerintah. Volatilitas jenis ini membantu investor menilai risiko spesifik tiap aset. Misalnya, emas cenderung lebih stabil dibanding saham startup, sehingga asset-specific volatility emas rendah.
Baca juga: Apa itu Bappebti? Tugas, Fungsi, dan Wewenangnya dalam Perdagangan Berjangka
Cara Menghitung Volatility
Kalau kamu bukan matematikawan, jangan khawatir. Ada cara sederhana dan mudah dipahami:
1. Standar Deviasi
Metode ini paling umum dipakai. Rumus sederhananya:
σ = √[ Σ (xi – x̄)² / n ]
Keterangan:
- xi = harga aset tiap periode
- x̄ = rata-rata harga
- n = jumlah data
Semakin tinggi σ (standar deviasi), semakin tinggi volatilitas aset.
2. Range Periode Tertentu
Cek selisih harga tertinggi dan terendah dalam periode tertentu. Misal, selama sebulan:
- Harga tertinggi: Rp105.000
- Harga terendah: Rp95.000
Selisih Rp10.000 ini menggambarkan volatilitas secara praktis.
3. Volatility Index (VIX)
Untuk investor lebih advanced, ada VIX (Volatility Index), biasanya disebut “fear index” di pasar saham global. Indeks ini membantu memperkirakan pergerakan pasar besar dan strategi investasi.
Mengelola Volatility di Kehidupan Sehari-Hari
Volatilitas nggak cuma penting buat trader profesional. Kamu bisa pakai konsep ini buat keputusan finansial pribadi:
- Diversifikasi Investasi: Jangan taruh semua dana di satu jenis aset. Campur saham, obligasi, dan emas untuk meredam risiko fluktuasi.
- Dana Darurat: Siapkan dana darurat setara 3-6 bulan kebutuhan bulanan. Jadi, kalau pasar lagi naik-turun, nggak panik.
- Pantau Riwayat Kredit & Peluang Pinjaman: Tools seperti Skorlife bisa bantu cek skor kredit, peluang pengajuan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), KTA (Kredit Tanpa Agunan), atau kredit kendaraan. Dengan data ini, kamu bisa lebih percaya diri mengambil keputusan finansial meski pasar volatil.
- Manajemen Keuangan & Budgeting: Skorlife juga menyediakan rekomendasi pembayaran tunggakan dan pengaturan anggaran, supaya keuangan tetap terkontrol.
Baca juga: Rasio Keuangan: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya
Contoh Volatility dalam Investasi
Misal kamu ingin investasi Rp10 juta:
- Saham Perusahaan A – volatilitas tinggi
Saham ini bisa naik cepat, misalnya dari Rp100.000 ke Rp120.000 dalam waktu singkat. Tapi hati-hati, risikonya juga besar; harga bisa turun drastis ke Rp80.000 kalau kondisi pasar memburuk. Cocok untuk investor yang siap menerima fluktuasi besar demi peluang profit tinggi. - Saham Perusahaan B – volatilitas rendah
Saham ini cenderung stabil, naik perlahan, misalnya dari Rp100.000 ke Rp105.000 dalam satu bulan. Risiko kerugian lebih kecil, tapi keuntungan juga lebih terbatas. Cocok untuk investor yang mengutamakan keamanan modal.
Dengan memadukan kedua jenis saham dan menyesuaikan dana darurat, kamu bisa menyeimbangkan potensi keuntungan serta risiko. Strategi ini dikenal sebagai diversifikasi, cara sederhana tapi efektif untuk menghadapi pasar yang fluktuatif.

Kesimpulan
Volatility adalah indikator naik-turunnya harga aset, yang penting buat menilai risiko sekaligus peluang investasi. Dengan memahami penyebab, jenis, dan cara menghitungnya, kamu bisa mengambil keputusan lebih cerdas.
Selain itu, tools seperti aplikasi Skorlife bisa jadi pendamping pintar buat cek riwayat kredit, peluang pinjaman, atau mengatur keuangan. Jadi, meski pasar sedang fluktuatif, kamu tetap punya kontrol penuh atas keputusan finansialmu.
FAQ seputar Volatility
- Bagaimana cara menghadapi volatility?
Untuk menghadapi volatilitas, pastikan kamu punya dana darurat, lakukan diversifikasi investasi, dan pantau keuangan secara rutin. Tools seperti Skorlife bisa membantu cek riwayat kredit, peluang pengajuan pinjaman, hingga atur budgeting agar keputusan finansial tetap aman saat pasar fluktuatif.
- Volatilitas artinya apa?
Secara sederhana, volatility adalah ukuran seberapa besar harga suatu aset naik-turun dalam periode tertentu. Semakin tinggi volatilitas, semakin besar fluktuasi harga, dan sebaliknya.
- Apa itu volatilitas dalam investasi?
Dalam investasi, volatilitas menunjukkan tingkat risiko dan peluang dari suatu aset. Saham atau instrumen dengan volatilitas tinggi bisa memberikan keuntungan cepat, tapi juga potensi kerugian besar.
- Apa yang terjadi jika volatilitas tinggi?
Jika volatilitas tinggi, harga aset cenderung naik-turun lebih ekstrem. Ini bisa jadi peluang untuk profit tinggi, tapi juga meningkatkan risiko kerugian. Investor perlu strategi yang tepat, misal diversifikasi atau kontrol modal, untuk mengurangi dampaknya.
- Apakah volatilitas selalu buruk?
Nggak selalu. Volatilitas tinggi berarti risiko lebih besar, tapi juga potensi keuntungan lebih tinggi. Yang penting, pahami aset yang kamu pilih dan sesuaikan strategi investasi dengan profil risiko kamu.





