Apa Itu Strategi Backtesting dan Forward Testing dalam Investasi?

Backtesting dan forward testing membantu investor menguji strategi investasi sebelum pakai uang riil. Pelajari cara kerja, contoh & kesalahan umumnya

Punya strategi investasi itu ibarat punya peta sebelum perjalanan jauh. Tapi pertanyaannya, apakah peta tersebut benar-benar bisa diandalkan? Di dunia investasi serta trading, dua metode yang sering dipakai untuk menjawab pertanyaan ini adalah Backtesting dan forward testing.

Keduanya membantu investor mengambil keputusan lebih rasional, bukan sekadar ikut tren atau emosi sesaat. Mati kita kenali lebih dalam mengenai kedua strategi investasi ini.

Baca juga: Definisi dan Pengertian All-Time High (ATH) dalam Investasi

Backtesting: Menguji Strategi Investasi dengan Data Masa Lalu

Backtesting adalah proses menguji sebuah strategi investasi menggunakan data historis. Tujuannya sederhana: melihat bagaimana performa strategi tersebut seandainya diterapkan di masa lalu.

Dalam praktik backtesting trading, investor biasanya memeriksa:

  • Konsistensi profit dan loss
  • Risiko penurunan (drawdown)
  • Rasio risiko dan imbal hasil
  • Ketahanan strategi di berbagai kondisi pasar

Metode ini umum digunakan pada saham, reksa dana berbasis kuantitatif, forex, hingga kripto. Banyak platform trading modern bahkan menyediakan fitur backtesting otomatis menggunakan data harga bertahun-tahun.

Menurut CFA Institute, penggunaan data historis membantu investor memahami karakter risiko strategi serta menghindari ekspektasi hasil tidak realistis.

Strategi investasi Backtesting dan forward testing
Sumber gambar: Freepik

Kenapa Backtesting Penting untuk Investor Ritel?

Banyak investor pemula merasa strateginya “bagus” karena baru untung 1-2 kali. Masalahnya, itu belum cukup.

Dengan Backtesting, kamu bisa:

  1. Mengurangi keputusan berbasis emosi
    Strategi diuji pakai data, bukan rasa yakin semata.
  2. Mengetahui potensi risiko sejak awal
    Termasuk kapan strategi cenderung gagal.
  3. Mengukur ekspektasi return yang masuk akal
    Jadi tidak overconfidence saat pasar sedang bagus.

Namun penting dicatat, backtesting trading bukan alat peramal masa depan. Strategi ini hanya memberi gambaran probabilitas, bukan kepastian.

Keterbatasan Backtesting yang Perlu Disadari

Meski sangat membantu, Backtesting juga punya keterbatasan jika tidak dilakukan dengan hati-hati:

  • Data masa lalu tidak selalu mencerminkan kondisi pasar saat ini
  • Tidak semua faktor psikologis bisa disimulasikan
  • Risiko overfitting (strategi terlalu “disesuaikan” dengan data lama)

Karena itulah, strategi investasi ini tidak seharusnya berdiri sendiri.

Baca juga: 7 Jenis Instrumen Investasi: Contoh, dan Cara Memilih yang Tepat

Forward Testing: Menguji Strategi di Kondisi Pasar Nyata

Di sinilah forward testing mengambil peran penting. Forward testing adalah proses menguji strategi di pasar yang sedang berjalan, biasanya menggunakan:

  • Akun demo, atau
  • Modal kecil terlebih dahulu

Berbeda dengan backtesting yang berbasis data historis, forward testing menguji strategi di dunia nyata, lengkap dengan volatilitas, sentimen pasar, hingga faktor psikologis investor.

Menurut banyak praktisi pasar modal, forward testing adalah jembatan antara teori dan praktik.

high risk high return dalam investasi
Sumber gambar: Freepik

Perbedaan Backtesting dan Forward Testing Secara Sederhana

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan kamu sedang mencoba resep baru.

  • Backtesting → Belajar dari masa lalu
    Kamu mengecek resep lama: bahan apa yang dipakai, langkah mana yang berhasil, dan di bagian mana sering gagal. Dalam investasi, backtesting berarti melihat bagaimana strategi bekerja berdasarkan data historis, apakah konsisten untung, seberapa besar risikonya, dan kapan biasanya mengalami penurunan.
  • Forward testing → Menguji kesiapan di masa sekarang
    Setelah yakin dengan resepnya, kamu langsung mencoba masak hari ini dengan bahan yang ada. Di dunia investasi, forward testing berarti menjalankan strategi di kondisi pasar saat ini, biasanya dengan akun demo atau dana kecil, untuk melihat apakah strategi tetap relevan menghadapi volatilitas dan dinamika pasar nyata.

Kombinasi keduanya membantu investor tidak hanya percaya diri di atas kertas, tapi juga lebih siap saat strategi benar-benar diterapkan dengan uang riil.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Investasi Jangka Panjang dan Jenis-jenisnya

Contoh Praktis Penggunaan Backtesting dan Forward Testing

Misalnya kamu punya strategi beli saham saat:

  • Harga berada di atas MA 50
  • Volume transaksi meningkat dibanding rata-rata

Strategi seperti ini kelihatannya simpel, tapi tetap perlu diuji agar tidak sekadar “terasa masuk akal”. Langkah sehat yang bisa dilakukan:

  1. Lakukan Backtesting dengan data 5-10 tahun
    Tujuannya untuk melihat apakah strategi ini hanya bekerja di periode tertentu atau cukup konsisten di berbagai fase pasar, termasuk saat pasar sideways atau turun.
  2. Analisis performa, risiko, hingga konsistensinya
    Jangan hanya fokus ke total profit. Perhatikan juga seberapa dalam potensi penurunannya dan berapa lama strategi butuh waktu untuk kembali pulih.
  3. Lanjutkan forward testing di akun demo selama 2-3 bulan
    Di tahap ini, kamu bisa melihat bagaimana strategi bereaksi terhadap berita, sentimen pasar, hingga volatilitas harian yang tidak tercermin penuh di data historis.
  4. Terapkan dengan dana kecil sebelum full allocation
    Cara ini membantu kamu beradaptasi secara psikologis, tanpa langsung menekan cash flow atau mengambil risiko berlebihan.

Pendekatan bertahap seperti ini umum dipakai dalam backtesting trading profesional untuk menjaga disiplin, konsistensi pengambilan keputusan, serta kestabilan cash flow.

Apa itu investor
Sumber gambar: Freepik

Kesalahan Umum Saat Melakukan Backtesting Trading

Meski terlihat rapi di atas kertas, backtesting trading sering gagal karena beberapa kesalahan berikut:

  • Terlalu banyak indikator, sehingga strategi sulit diterapkan secara realistis
  • Mengabaikan biaya transaksi dan pajak, padahal ini bisa memangkas hasil secara signifikan
  • Mengasumsikan likuiditas pasar selalu ideal, padahal tidak semua saham mudah keluar-masuk

Tanpa forward testing, kesalahan-kesalahan ini sering baru terasa saat strategi sudah dipakai dengan uang riil serta kerugian mulai terjadi.

Baca juga: Menabung vs Investasi: Mana yang Harus Didahulukan?

Strategi Investasi yang Baik Butuh Pondasi Finansial yang Sehat

Strategi boleh solid, tapi kalau kondisi keuangan pribadi belum siap, risiko tetap besar.

Sebelum serius menerapkan hasil Backtesting dan forward testing, pastikan:

  • Tidak memiliki tunggakan kredit bermasalah
  • Rasio utang masih terkendali
  • Cash flow bulanan cukup stabil

Di sinilah Skorlife bisa membantu secara praktis dan relevan:

  • Cek Riwayat Kredit untuk mengetahui kondisi kredit secara menyeluruh
  • Peluang Pengajuan Kredit agar lebih percaya diri saat mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), kredit kendaraan, atau kredit lainnya
  • Manajemen Keuangan dengan rekomendasi pembayaran tunggakan dan pengaturan budget yang lebih sehat

Strategi investasi akan jauh lebih efektif jika didukung kondisi keuangan yang rapi.

Kesimpulan

Backtesting membantu investor belajar dari data masa lalu, sementara forward testing memastikan strategi tetap relevan di kondisi pasar saat ini. Keduanya bukan alat untuk mencari kepastian, melainkan untuk mengelola risiko dengan lebih cerdas.

Mulailah dari strategi sederhana, uji secara disiplin, dan pastikan kondisi finansialmu siap. Dengan pendekatan yang realistis serta terukur, investasi bukan lagi soal nekat, tapi soal keputusan yang matang sekaligus terencana.


FAQ Seputar Backtesting dan Forward Testing

  1. Apa itu backtesting dalam investasi?

Backtesting adalah metode menguji strategi investasi menggunakan data historis untuk melihat bagaimana performanya di masa lalu. Tujuannya membantu investor memahami potensi keuntungan, risiko, dan konsistensi strategi sebelum digunakan dengan uang riil.

  1. Apakah backtesting trading bisa menjamin keuntungan di masa depan?

Tidak. Backtesting trading tidak menjamin hasil di masa depan karena kondisi pasar bisa berubah. Strateding investasi ini berfungsi sebagai alat evaluasi risiko dan probabilitas, bukan alat prediksi pasti.

  1. Apa perbedaan utama backtesting dan forward testing?

Perbedaannya terletak pada waktu pengujian. Backtesting menggunakan data masa lalu, sementara forward testing menguji strategi di kondisi pasar saat ini, biasanya lewat akun demo atau modal kecil.

  1. Kenapa forward testing tetap penting setelah backtesting?

Karena forward testing membantu memastikan strategi yang terlihat bagus di data historis tetap relevan menghadapi volatilitas, sentimen pasar, hingga faktor psikologis investor di dunia nyata.

  1. Apakah investor pemula perlu melakukan backtesting dan forward testing?

Sangat disarankan. Investor pemula justru paling diuntungkan karena backtesting dan forward testing membantu belajar disiplin, mengelola risiko, serta menghindari keputusan impulsif sejak awal.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments