Mengenal Jenis-Jenis Akad Kredit Sebelum Ajukan Pinjaman
Kenali jenis akad kredit konvensional dan syariah sebelum ajukan pinjaman. Pahami perbedaannya agar cicilan lebih aman dan sesuai kondisi keuanganmu.
Mengajukan pinjaman itu bukan cuma soal bunga paling rendah atau cicilan paling ringan. Ada satu hal penting namun kerap luput diperhatikan, padahal dampaknya besar ke keuangan jangka panjang, yakni jenis akad kredit yang kamu pilih. Akad bisa diibaratkan “aturan main” antara kamu dan pemberi pinjaman. Salah pilih akad, risikonya bisa terasa sampai bertahun-tahun ke depan.
Baca juga: Mengenal Bunga Floating KPR dan Cara Menghitungnya
Apa Itu Akad Kredit?
Akad kredit adalah perjanjian resmi antara peminjam dan pemberi pinjaman yang mengatur seluruh ketentuan kredit, mulai dari jumlah pinjaman, cara pembayaran, biaya (bunga atau margin), hingga hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Sederhananya, akad kredit adalah aturan main sebelum kamu menerima dana pinjaman. Di dalam akad inilah dijelaskan apakah kredit menggunakan bunga, margin, sistem cicilan tetap atau bisa berubah, serta apa konsekuensinya jika terjadi keterlambatan pembayaran.

Kenapa Kamu Perlu Paham Akad Kredit dari Awal?
Tak sedikit orang baru menyadari soal akad setelah cicilan mulai terasa berat. Padahal, sejak awal akad sudah menentukan:
- Cara perhitungan bunga atau margin
- Hak dan kewajiban kamu sebagai debitur
- Risiko jika telat bayar
- Fleksibilitas restrukturisasi jika kondisi keuangan berubah
Memahami jenis akad kredit bikin kamu lebih siap, lebih tenang, serta jauh dari keputusan impulsif yang bisa mengganggu cash flow.
Baca juga: Agunan: Pengertian, Jenis, & Perbedaan dengan Pinjaman Bank
Jenis-Jenis Akad Kredit.
1. Akad Kredit Konvensional
Akad kredit konvensional adalah jenis akad kredit paling umum ditemui di produk keuangan sehari-hari seperti KTA (Kredit tanpa Agunan), kartu kredit, kredit motor/mobil, hingga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) konvensional.
Ciri utamanya:
- Menggunakan bunga sebagai biaya pinjaman
- Jenis bunga bisa:
- Flat: cicilan relatif sama dari awal sampai akhir
- Efektif: bunga dihitung dari sisa pokok pinjaman
- Floating: bunga bisa naik-turun mengikuti suku bunga acuan (BI Rate)
- Cicilan berpotensi berubah jika suku bunga acuan naik, terutama setelah masa bunga tetap (fixed) berakhir
Contohnya:
- Akad pinjaman berbunga: kamu meminjam sejumlah dana, lalu mengembalikan pokok + bunga sesuai tenor
- Kredit dengan bunga mengambang: umum pada KPR, di mana 1-5 tahun pertama fixed, lalu masuk fase floating
Jenis akad kredit konvensional cocok untuk kamu yang:
- Aktif membandingkan bunga antar bank
- Punya penghasilan relatif stabil
- Siap menghadapi risiko cicilan naik di masa depan
2. Akad Kredit Syariah
Berbeda dengan konvensional, akad kredit syariah tidak mengenal bunga. Sebagai gantinya, digunakan konsep jual beli, sewa, atau kerja sama, sesuai prinsip syariah serta fatwa DSN-MUI.
Beberapa akad syariah paling umum digunakan:
- Murabahah: bank membeli aset (misalnya rumah), lalu menjual ke nasabah dengan margin keuntungan yang disepakati di awal
- Ijarah: skema sewa atas aset dalam periode tertentu
- Musyarakah: kerja sama pembiayaan antara bank dan nasabah, porsi kepemilikan bisa berubah seiring waktu
Keunggulan utama akad syariah:
- Margin ditentukan sejak awal → cicilan lebih prediktif atau bisa diketahui sejak awal
- Tidak terpengaruh langsung oleh kenaikan suku bunga acuan
- Struktur akad biasanya dijelaskan lebih detail di awal perjanjian
Karena sifatnya lebih stabil, banyak orang memilih jenis akad kredit syariah untuk KPR jangka panjang, terutama jika ingin menjaga kepastian arus kas bulanan.

Perbedaan Utama Akad Kredit Konvensional vs Syariah
Kalau diringkas dengan bahasa sehari-hari, perbedaan akad kredit konvensional dan syariah sebenarnya cukup terasa di cara cicilan “berperilaku” ke depan.
- Akad kredit konvensional: biaya pinjaman bergantung pada bunga. Artinya, cicilan bisa naik atau turun mengikuti perubahan suku bunga acuan. Di awal mungkin terasa ringan, tapi dalam jangka panjang perlu kesiapan mental dan finansial kalau terjadi kenaikan bunga.
- Akad kredit syariah: margin keuntungan disepakati sejak awal akad. Karena itu, cicilan cenderung lebih stabil serta mudah diprediksi, cocok jika kamu ingin kepastian pengeluaran bulanan.
Dari sisi pendekatan:
- Konvensional lebih fokus ke angka bunga dan simulasi cicilan.
- Syariah lebih menekankan transparansi akad, objek pembiayaan, dan kesepakatan di awal.
Tidak ada jenis akad yang “lebih baik” secara mutlak. Yang terpenting, jenis akad kredit yang kamu pilih benar-benar sesuai dengan kondisi penghasilan, toleransi risiko, serta rencana keuangan jangka panjangmu.
Baca juga: Ciri-ciri Pinjaman Online Legal, Manfaat, Cara Ceknya
Risiko Jika Salah Pilih Akad Kredit
Bagian ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa terasa lama. Salah memilih jenis akad kredit bisa berujung pada:
- Cicilan membengkak saat suku bunga naik, terutama pada kredit jangka panjang seperti KPR
- Kesulitan refinancing atau restrukturisasi karena akad tidak cukup fleksibel
- Beban utang terasa lebih berat dari perhitungan awal, sehingga mengganggu cash flow bulanan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa salah satu penyebab keterlambatan pembayaran kredit adalah kurangnya pemahaman nasabah terhadap skema dan akad pinjaman sejak awal. Artinya, memahami jenis akad kredit bukan sekadar urusan istilah, ini soal menjaga kesehatan finansial hingga kemampuan bertahan dalam jangka panjang.
Dengan pemahaman tepat sejak awal, kamu bisa menghindari kejutan di tengah jalan sehingga bisa menjalani cicilan dengan lebih tenang.

Tips Memilih Akad Kredit yang Lebih Aman
Sebelum tanda tangan perjanjian, coba lakukan ini:
- Bandingkan total biaya, bukan cuma cicilan bulanan
- Tanya skenario terburuk: apa yang terjadi kalau telat bayar?
- Sesuaikan dengan profil penghasilan (tetap vs fluktuatif)
- Pastikan jenis akad kredit dijelaskan tertulis dan transparan
Kalau masih ragu, jangan sungkan minta simulasi ulang. Itu hak kamu sebagai calon debitur.
Baca juga: Simulasi Kredit: Cara Hitung Biaya Cicil dengan Kartu Kredit
Cek Kondisi Kredit untuk Persiapkan Diri Lebih Baik
Sebelum mengajukan pinjaman apa pun, baiik itu KPR, kredit kendaraan, atau KTA, penting untuk tahu posisi kreditmu sekarang. Aplikasi Skorlife hadir sebagai solusi praktis untukmu! Lewat aplikasi Skorlife, kamu bisa:
- Cek Riwayat Kredit: tahu status kredit dan histori pembayaranmu
- Peluang Pengajuan Kredit: lihat peluang pengajuan kreditmu disetujui sebelum apply
- Manajemen Keuangan: dapat rekomendasi pelunasan tunggakan dan pengaturan budget secara realistis
Dengan memahami jenis akad kredit hingga kondisi skor kredit sekaligus, kamu bisa lebih percaya diri mengambil keputusan, tanpa tebak-tebakan.
Dengan Pemahanam Tepat, Jadikan Kredit sebagai Alat, Bukan Beban
Pinjaman bisa menjadi solusi yang sangat membantu, selama digunakan secara sadar sekaligus terencana. Dengan memahami jenis akad kredit, kamu tidak hanya melihat angka cicilan di awal, tapi juga memahami konsekuensi jangka panjangnya, bagaimana cicilan bisa berubah, seberapa fleksibel skemanya, dan dampaknya ke arus kas bulanan.
Keputusan kredit yang baik bukan soal cepat disetujui, tapi soal nyaman dijalani sampai lunas. Saat kamu paham akadnya, risiko bisa ditekan sehingga kredit dapat benar-benar berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan finansial, bukan sumber tekanan di kemudian hari.
FAQ Seputar Jenis Akad Kredit
- Apa saja macam-macam jenis akad kredit?
Secara umum, jenis akad kredit terbagi menjadi dua kategori besar: akad kredit konvensional dan akad kredit syariah. Akad konvensional menggunakan bunga sebagai biaya pinjaman, sedangkan akad syariah menggunakan skema margin, sewa, atau bagi hasil sesuai prinsip syariah.
- Apa saja jenis-jenis kredit yang umum di Indonesia?
Jenis kredit yang umum meliputi Kredit Tanpa Agunan (KTA), kredit kendaraan bermotor, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kartu kredit, hingga kredit usaha. Setiap produk tersebut bisa menggunakan jenis akad kredit yang berbeda, tergantung bank atau lembaga pembiayaannya.
- Kredit biasanya menggunakan akad apa?
Sebagian besar kredit konvensional menggunakan akad pinjaman berbunga. Sementara itu, kredit berbasis syariah menggunakan akad seperti murabahah, ijarah, atau musyarakah. Pilihan akad ditentukan oleh jenis produk dan kebijakan lembaga keuangan.
- Apakah jenis akad kredit memengaruhi besar cicilan?
Ya, sangat mempengaruhi. Pada akad konvensional, cicilan bisa berubah jika bunga naik. Pada akad syariah, cicilan cenderung lebih stabil karena margin disepakati sejak awal. Karena itu, memilih jenis akad kredit yang tepat penting untuk menjaga arus kas bulanan.
- Bagaimana cara memilih jenis akad kredit yang paling aman?
Pilih akad sesuai dengan kondisi penghasilan, toleransi risiko, serta tujuan keuangan. Bandingkan total biaya, pahami skema cicilan, dan pastikan kamu tahu hak serta kewajiban sebelum menandatangani perjanjian. Memahami jenis akad kredit sejak awal membantu menghindari masalah di kemudian hari.





