Avatar

Debby Nurhanani

PUBLISHED ON NOVEMBER, 14 2022 reading time clock 5 Mins Read

Pengertian Sandwich Generation dan Penyebab Munculnya

Istilah sandwich generation atau generasi sandwich saat ini menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pada umumnya, yang disebut sebagai sandwich generation adalah mereka yang merupakan tulang punggung keluarga.

Generasi sandwich, seperti namanya, merupakan kondisi seorang tulang punggung memiliki tanggung jawab untuk mengurus 1, 2, atau bahkan lebih banyak generasi di atasnya dan/atau di bawahnya. Bagi yang telah menikah dan memiliki keluarga sendiri artinya adalah ia menanggung beban dari kakek-nenek dan juga orangtuanya di waktu yang bersamaan dengan anak-anaknya atau bahkan cucu-cucunya

Hal inilah yang disebut dengan fenomena sandwich generation. Untuk lebih lengkapnya, mari kita bahas sebenarnya apa itu sandwich generation.

Pengertian Generasi Sandwich

Mulai populer di abad 20, istilah sandwich generation atau generasi sandwich diperkenalkan pertama kali oleh Dorothy A. Miller. Beliau merupakan seorang profesor sekaligus direktur praktikum dari Universitas Kentucky. Pada tahun 1981, beliau memperkenalkan istilah sandwich generation lewat jurnal yang berjudul “The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging”.

Dalam jurnal tersebut, Dorothy A. Miller, menyantumkan sebuah pratinjau bahwa generasi sandwich adalah mereka yang ‘terjebak’ atau ‘terjepit’ dalam kondisi orangtua yang menua di waktu yang sama dengan usia anak yang beranjak dewasa.

Kondisi ini kemudian menimbulkan tanggung jawab terhadap generasi atas dan juga generasi bawah di waktu yang bersamaan. Hal ini karena orangtua dan juga anak memiliki kebutuhan yang sama, dalam hal keuangan, waktu, perhatian, dan lainnya. Lalu, apa ciri-ciri dari generasi sandwich ini? Mari kita bahas lebih dalam bersama, ya.

Ciri-Ciri Generasi Sandwich

kelemahan

Terdapat beberapa ciri berbeda dari generasi sandwich ini. Tergantung pada rentang usia dan juga generasi yang menjadi tanggungan. Secara lengkap keterangannya ada pada poin di bawah.

1. The Traditional Sandwich Generation

Generasi tradisional sandwich berisikan orang dewasa dengan rentang usia 40-50 tahun. Generasi ini biasanya menanggung generasi orangtua mereka dan juga anak-anak mereka. Hal ini dikarenakan orangtua sudah tidak lagi dalam usia produktif dan anak-anak belum memasuki usia mandiri.

2. The Club Sandwich Generation

Dewasa berusia 30-60 kerap tergolong ke dalam kategori ini. Pada rentang ini, tanggungan terhadap generasi atas biasanya adalah untuk orangtua dan kakek-nenek. Kemudian jika usia generasi ini sudah bertambah, maka tanggungan terhadap generasi bawah adalah terhadap anak dan juga cucu.

3. The Open-Faced Sandwich Generation

Generasi ini tidak dikategorikan oleh usia, namun lebih terhadap tanggungannya. Setiap orang yang memiliki tanggung jawab terhadap lansia, terlepas dari relasi, maka masuk ke dalam kategori ini. Berlaku bagi baik yang telah menikah ataupun belum menikah.

Penyebab Generasi Sandwich

Tanggung jawab generasi sandwich tidak terbatas selalu mengenai finansial. Terkadang effort berupa waktu dan perhatian pun menjadi hal yang dapat membebani generasi sandwich ini. Walaupun demikian. generasi sandwich ini terjadi dan muncul kerap karena kondisi finansial.

Buruknya generasi sebelumnya dalam mengatur keuangan bisa menjadi salah satu penyebab munculnya generasi sandwich. Penyebab lain yaitu bisa jadi generasi sebelumnya juga merupakan generasi sandwich, sehingga sulit untuk terlepas dari siklus ini. Berikut adalah beberapa penyebab munculnya generasi sandwich dan penjelasannya

1. Kurangnya Kemampuan Finansial

Generasi sandwich salah satunya disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam mengelola keuangan. Perlu diingat, fenomena seperti generasi sandwich lah yang seharusnya menjadi pengingat dan motivasi agar kita mandiri dan bijak dalam mengatur keuangan.

Bukan hanya sekedar mandiri dan bijak ketika kita masih berusia produkti. Justru sebaliknya, mandiri dan bijak dalam mengatur keuangan agar di hari tua kita tetap dapat menopang kehidupan kita sendiri. Hingga tua mandiri dan bijak tanpa perlu mengandalkan orang lain.

2. Membeli Barang yang Tidak Penting

Manusia memiliki tendensi untuk mengikuti apa yang diinginkannya, termasuk dalam membeli barang atau jasa. Apalagi jika keinginan tersebut telah lama ditahan karena kurangnya kemampuan. Dengan harapan, suatu saat kita dapat memiliki apa yang kita inginkan.

Keinginan-keinginan ini pun cenderung dipenuhi ketika kita sudah merasa mampu dan memiliki cukup uang. Namun, terkadang batasan antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Hal inilah yang menjadi akar impulsivitas dan menjadi bahaya bagi kondisi finansial kita.

3. Orang yang Dulunya Merupakan Generasi Sandwich

Penyebab lain yang merupakan salah satu akar siklus generasi sandwich adalah apabila generasi di atas kita juga merupakan generasi sandwich. Hal ini dapat mereka atasi ketika berada di masa usia produktif. Namun, bisa jadi karena tanggungan yang terlalu besar, mereka tidak dapat secara leluasa mengatur keuangan mereka untuk di masa tua mereka. Ketidakmampuan ini yang menjadikan generasi sandwich menurun ke generasi selanjutnya.

Cara Meminimalisir Terjadinya Generasi Sandwich

kelemahan

Bukan tidak mungkin generasi sandwich ini bisa dihindari, atau setidaknya, diminimalisir secara perlahan agar tidak menjadi siklus. Kita tidak memiliki kemampuan melihat kondisi ekonomi di masa depan. Artinya, kita tidak tahu secara pasti beban apa yang akan menjadi potensi beban bagi generasi setelah kita. Oleh karena itu, penting bagi generasi sandwich saat ini untuk berjuang lebih keras dalam hal-hal di bawah ini agar beban generasi selanjutnya dapat menjadi lebih ringan.

1. Mencatat Pengeluaran dan Pemasukan

Langkah sesederhana mencatat pengeluaran dan pemasukan dapat membantu kita meringankan beban generasi sandwich. Apabila dilakukan dengan detail dan rapi, maka dapat terlihat kondisi keuangan kita. Apakah kondisi keuangan kita tergolong sehat atau tidak. Apabila terlihat pemasukan lebih besar daripada pengeluaran, artinya keuangan kita sehat. Hal ini berlaku sebaliknya.

2. Mengelola Keuangan dengan Bijak

Bijak dalam artian berhati-hati dalam mengambil keputusan secara finansial. Prioritaskan kebutuhan di atas keinginan. Berfokus kepada fungsi suatu barang atau jasa dibandingkan dengan gengsi atau rasa bangga yang didapat. Hal ini tentunya tidak otomatis dapat dilakukan, namun dapat semakin terasah apabila dijadikan suatu kebiasaan.

3. Memiliki Penghasilan yang Cukup dan Tidak Dari Satu Sumber Penghasilan Saja

Manfaatkan setiap waktu kita, terutama di masa usia produktif. Lincah lah dalam bekerja dan dalam melihat peluang. Carilah pekerjaan sampingan yang bisa menghasilkan uang lebih. Mendapatkan uang lebih banyak artinya kita dapat menabung lebih banyak. Untuk tips dan trik mendapatkan penghasilan tambahan bisa dilihat di sini.

4. Komunikasikan Bersama Kerabat

Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa kita tidak perlu menanggung beban generasi atas dan juga bawah sendirian. Terutama jika kita memiliki kerabat. Komunikasikan lah dengan baik perihal ini dan pelan-pelan belajar untuk bekerja sama menanggung beban bersama. Tentunya menyesuaikan dengan keadaan masing-masing pihak.

Dampak Generasi Sandwich

Tentu saja generasi sandwich memiliki dampak negatif. Baik mental maupun fisik dapat terkena imbasnya. Apapun dampak yang dapat terasa adalah sebagai berikut.

1. Tingkat Stres yang Lebih Tinggi

Seperti yang Dorothy A. Miller katakan di awal bahwa generasi sandwich sangat rentan terkena stres. Pikiran terus menerus tentang bagaimana memenuhi kebutuhan diri sendiri dan juga semua pihak tentunya perlahan akan mengerogoti mental dan fisik seseorang. Hal ini yang menjadi akar dari stres tingkat tinggi.

2. Burnout Atau Kelelahan Fisik dan Juga Mental Pada Diri Sendiri

Segala sesuatu yang menerpa pikiran kita, pasti juga akan memberikan dampak pada fisik. Cepat atau lambat, burnout akan dirasakan oleh generasi sandwich. Lelah fisik dan juga lelah pikiran pada akhirnya akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

3. Perasaan Bersalah Atau Merasa Tidak Puas

Dari sisi mental, perasaan bersalah atau merasa tidak puas dalam membantu setiap generasi kerap dirasakan oleh generasi sandwich. Hal ini bisa disebabkan oleh diri sendiri atau faktor internal. Namun, kerap juga hal ini muncul karena adanya omongan dari pihak lain atau faktor eksternal.

4. Mudah Merasa Khawatir

Khawatir berlebihan atau anxiety akan timbul apabila generasi sandwich merasa tidak dapat mencukupi kebutuhan yang menjadi tanggungannya. Kecemasan seperti darimana mendapatkan sumber penghasilan tambahan, bagaimana caranya menekan pengeluaran, dan lainnya.

Dampak inilah yang dapat dirasakan oleh generasi sandwich dari waktu ke waktu. Terdapat paling tidak dua hal yang bisa kita lakukan untuk menekan dampak negatif dari fenomena ini. Hal tersebut adalah menyadari kondisi kita sebagai generasi sandwich dan kemudian menerima kondisi ini apa adanya.

Dengan kita menyadari dan menerima kondisi, paling tidak kita bisa secara objektif menganalisa kemampuan dan juga menyesuaikan kebutuhan sesuai dengan pemasukan. Di sisi lain, kita juga berusaha untuk memahami penyebab dan kemudian mencari solusinya. Perlahan tapi pasti, kita bisa terlepas dari generasi sandwich untuk menjadi orang dewasa yang mandiri dan bijak finansial.