Avatar

Sekar

PUBLISHED ON AUGUST, 31 2022 reading time clock 5 Mins Read

Ramai Dibicarakan, Apa Itu Resesi dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Belakangan ini kata resesi sering terdengar di kalangan masyarakat dan masih terus menghantui seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan semakin banyak yang memprediksi bahwa resesi akan benar-benar terjadi. Selepas pandemi Covid-19 mereda, ditambah lagi dengan adanya perang yang terjadi di Eropa antara Rusia dan Ukraina yang masih memberikan dampak buruk pada persoalan supply and demand menyebabkan masyarakat dihadapkan dengan inflasi yang tinggi. Akibatnya, bank sentral di berbagai negara agresif dalam menaikkan suku bunga. Pada akhirnya, inilah yang dianggap sebagai penyebab terjadinya resesi.


Sebenarnya, apa itu resesi ekonomi dan apa yang menyebabkan timbulnya resesi? Berikut penjelasan mengenai pengertian, penyebab, ciri-ciri, dampak dan cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi resesi ekonomi.


Pengertian Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi adalah suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk karena adanya penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resesi merupakan kelesuan dalam dagang, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti) atau menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri). Resesi ekonomi sendiri dapat memicu penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya jumlah pengangguran hingga kebangkrutan ekonomi.


Penyebab Resesi Ekonomi

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai penyebab-penyebab resesi ekonomi,


1. Ekonomi yang gonjang-ganjing

Perekonomian negara yang mendadak gonjang-ganjing ditandai dengan lemahnya daya beli akibat kesulitan finansial. Hal ini disebabkan karena ketidakstabilan politik dan sosial, bencana alam, terorisme, perang, hingga situasi pandemi.


2. Konsumsi masyarakat yang rendah

Salah satu penyebab resesi ekonomi adalah karena rendahnya konsumsi masyarakat akibat kesulitan finansial. Hal ini terjadi karena adanya inflasi atau kenaikan harga, sehingga masyarakat lebih menjadi berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.


3. Asset Bubble

Penyebab lainnya dari resesi ekonomi adalah asset bubble atau gelembung aset seperti yang dipicu oleh krisis di Amerika Serikat pada tahun 2008 di pasar saham dan properti karena gegabahnya para investor dalam mengambil keputusan yang akhirnya merusak pasar.


Pada saat itu, mereka membeli banyak saham dan menumpuk properti dengan asumsi bahwa harganya akan terus naik di masa depan. Ketika kondisi ekonomi sedang berantakan, mereka akan ramai-ramai menjual atau yang biasa disebut panic selling.

4. Suku bunga tinggi

Hal lainnya penyebab resesi ekonomi adalah suku bunga yang tinggi. Inflasi yang semakin tinggi membuat bank sentral pun menaikkan suku bunganya untuk melindungi nilai mata uang, tetapi hal ini akan membebani debitur dan menyebabkan kredit macet.


5. Inflasi dan deflasi

Situasi-situasi yang menyebabkan terjadinya resesi adalah inflasi dan deflasi. Inflasi adalah kenaikan harga barang dalam waktu tertentu akibat naiknya permintaan dari masyarakat. Sedangkan deflasi adalah permintaan masyarakat yang menurun terhadap suatu barang yang disebabkan karena daya beli masyarakat yang rendah. Tingkat konsumsi masyarakat yang rendah dapat menimbulkan perlambatan ekonomi dan bisa menyebabkan resesi.


Ciri-ciri Resesi Ekonomi

Selanjutnya, setelah mengetahui apa itu resesi dan hal-hal yang menjadi penyebabnya, ketahui apa saja ciri-ciri resesi ekonomi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ciri-ciri resesi ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat

Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Pertumbuhan ekonomi yang melambat biasanya dipengaruhi oleh ketidakstabilan investasi, konsumsi, pendapatan nasional, pengeluaran, dan ekspor atau impor. Apabila penurunan pendapatan negara terjadi selama dua kuartal berturut-turut, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut mengalami resesi.


Impor Lebih Besar dibanding Ekspor

Kondisi ekspor impor juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ketika suatu negara mendatangkan kebutuhan dari luar negeri lebih banyak dibandingkan ekspor, maka ada risiko defisit anggaran. Apabila ini terjadi, maka pendapatan nasional akan menurun dan dapat menyebabkan resesi.


Turunnya Jumlah Lapangan Kerja

Turunnya jumlah lapangan kerja membuat tingkat pengangguran semakin meningkat dan menunjukkan lemahnya ekonomi suatu negara. Tingkat kriminalitas pun berpotensi untuk meningkat pula dan akan mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modal di negara tersebut.


Produksi dan Konsumsi Tidak Seimbang

Selanjutnya, salah satu ciri-ciri resesi ekonomi yaitu produksi dan konsumsi yang tidak seimbang. Apabila produksi berlebih dan konsumsi rendah, stok barang akan menumpuk. Sementara itu, konsumsi yang lebih banyak dibanding produksi barang tidak dapat memenuhi permintaan, hal ini berpotensi mendorong impor dalam skala besar. Sehingga, produksi dan konsumsi yang tidak seimbang dapat membuat pengeluaran negara jadi tinggi dan keuntungan perusahaan di dalam negeri menipis.

Dampak Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi tidak hanya akan berdampak kepada pemerintah, tetapi juga perusahaan hingga individu. Berikut ini adalah dampak-dampak dari resesi ekonomi.


Dampak Resesi Ekonomi bagi Pemerintah

Resesi memiliki dampak negatif bagi pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Hal ini disebabkan karena penghasilan masyarakat di negara tersebut menurun.


Dampak Resesi Ekonomi bagi Perusahaan

Saat terjadi resesi ekonomi, daya beli masyarakat menurun dan laba yang akan didapat perusahaan semakin kecil. Kondisi ini berpotensi mengancam kelangsungan bisnis. Agar terhindar dari kebangkrutan, biasanya perusahaan akan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional. Hal ini tentunya berdampak pada tingkat pengangguran yang menjadi semakin tinggi.


Dampak Resesi Ekonomi bagi Pekerja

Seperti yang telah dijelaskan di atas, ketika perusahaan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan, maka artinya terjadi PHK dan pengangguran menjadi semakin meningkat. Pekerja yang tidak terkena PHK pun juga terancam akan terkena pemotongan upah dan hak-hak lainnya saat terjadi resesi ekonomi. Hal ini karena biaya operasional yang dipotong untuk mendukung kelangsungan bisnis perusahaan.


Cara Mengatasi Resesi Ekonomi

Agar dapat mencegah resesi ekonomi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Di bawah ini adalah cara-cara mengatasi resesi ekonomi.


Belanja Pemerintah Besar-Besaran

Cara ini dilakukan oleh Pemerintah dengan memperkuat daya beli sehingga permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi. Cara ini diharapkan dapat mengatasi resesi ekonomi.


Bantuan UMKM

UMKM menjadi salah satu sektor yang paling berdampak akibat adanya pandemi Covid-19. Namun, usaha jenis di sektor ini memiliki daya tahan lebih baik jika terjadi krisis karena lingkupnya yang kecil dibanding perusahaan. Bantuan UMKM diharapkan dapat mendorong kegiatan produksi tetap berjalan.


Demikianlah penjelasan mengenai apa itu resesi dan hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya resesi. Selain itu, ciri-ciri, dampak dan cara yang dapat dilakukan pemerintah dalam mengatasi resesi ekonomi juga telah dijelaskan di atas. Penting bagi kita para individu untuk mengelola keuangan pribadi agar dapat bertahan ketika resesi terjadi seperti dengan cara menghemat, mengurangi atau melunasi utang, mulai siapkan dana darurat, investasi dan juga menabung.