Avatar

Sekar

PUBLISHED ON NOVEMBER, 03 2022 reading time clock 5 Mins Read

Suka Belanja Online di Luar Negeri? Yuk, Cermati Pajaknya

Seiring berkembangnya zaman karena adanya teknologi yang semakin canggih, memudahkan kita sebagai konsumen untuk melakukan transaksi jual-beli dari mana sajai. Tidak hanya transaksi di dalam negeri, transaksi jual-beli lintas negara pun bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Belanja secara online sudah menjadi pilihan banyak orang karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja selama terhubung dengan jaringan internet.

Apabila kamu berencana belanja online untuk membeli barang melalui e-commerce di luar negeri, maka kamu wajib tahu apakah barang yang akan kamu impor akan dibebani pajak bea cukai dan berapa besaran pajak yang wajib kamu bayar sebagai konsumen, serta pajak apa saja yang harus dibayar ketika membeli barang dari luar negeri. Perlu diketahui, melakukan pembelian dari luar negeri wajib dikenai pajak bea cukai yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan RI. Hal ini tertuang dalam peraturan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 yang mengatur bea masuk barang impor. Tujuan dari dikenakan bea cukai agar pertumbuhan ekonomi meningkat dan melindungi Indonesia dari masuknya barang-barang yang terkena larangan dan pembatasan

Pada bulan Januari 2020, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan RI memberlakukan batasan nilai bebas bea masuk yang sebelumnya senilai Rp 1.050.000 (USD 75), menjadi Rp 45.000 (USD 3). Artinya, apabila kamu membeli barang dengan harga di atas Rp 45.000, maka akan dikenakan pajak pembelian barang online dari luar negeri.

kelemahan

Berapa pajak yang dikenakan untuk belanja online di luar negeri?

Besaran pajak yang dikenakan untuk belanja online di luar negeri sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK/199/PMK.010/2019. Berikut ini adalah perhitungan pajak belanja online dari luar negeri.

Perhitungan pajak di atas tidak berlaku untuk barang khusus yang banyak digemari dari luar negeri seperti tas, sepatu, dan produk tekstil. Bea masuk untuk barang tersebut ditentukan sebesar.

Saya baru saja ditagih, apa yang harus saya lakukan?

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk membayar bea pajak yang dibebankan kepada kamu ketika membeli barang dari luar negeri. Simak penjelasannya di bawah ini.

Apakah ambang batas pajak barang e-commerce yang diimpor berubah?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya di atas, ambang batas pajak barang e-commerce yang diimpor berubah menjadi Rp 45.000 atau USD 3 dari yang sebelumnya Rp 1.050.000 atau USD 75. Hal ini diberlakukan karena mayoritas di atas 90 persen barang kiriman yang dilaporkan seharga di bawah USD 75 atau Rp 1.050.000, sehingga barang-barang tersebut dibebaskan dari bea masuk. Hal itulah yang menyebabkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan RI memberlakukan ambang batas baru dengan menyesuaikan de minimis value disesuaikan menjadi USD 3.

Bagaimana penghitungan pajaknya?

Bagi kamu yang belum tahu perhitungan pajak ketika membeli barang online dari luar negeri, berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui. Namun, perlu diingat bahwa barang yang dimaksud adalah barang kiriman dan bukan barang yang dibawa langsung dari luar negeri (hand carry).

Sebagai contoh, berikut ini adalah simulasi perhitungan pajak belanja online dari luar negeri.

Kamu membeli tas dari Amerika Serikat dengan harga USD 40. Biaya kirim sebesar USD 10 dan biaya asuransi USD 2 dengan kurs Rp 14.500 per dollar AS.

Hitung CIF

CIF x (tarif bea masuk)

Hasilnya ditambah dengan CIF

Hasilnya dikalikan dengan PPN 10%

Pajak yang harus dibayarkan (Hasil setelah dikali tarif bea masuk + hasil setelah dikali PPN)

Demikianlah penjelasan mengenai pajak belanja online luar negeri dan cara mengetahui besaran pajak yang perlu dibayar ketika berbelanja online dari luar negeri.