Avatar

Natissa

PUBLISHED ON AUGUST, 10 2022 reading time clock 5 Mins Read

Ribut-ribut Inflasi, Apa Sih Perbedaan Inflasi dengan Deflasi?

Hampir setiap tahun kita selalu mendengar ribut-ribut seputar inflasi. Kenaikan gaji yang tak mengejar inflasi, persiapan dana pendidikan anak yang harus memperhitungkan inflasi, dan sejumlah keluhan lain tentang dampak inflasi pada perekonomian negara hingga pada warga negara secara individu. Tetapi apa sih yang dimaksud dengan inflasi? Apakah lawan inflasi yakni deflasi memiliki pengaruh yang lebih baik? Seberapa besar efeknya terhadap kehidupan dan keuangan pribadi kita? Simak selengkapnya!

Apa Itu Inflasi?

Dilansir dari laman Bank Indonesia, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Namun tidak semua kenaikan harga bisa otomatis disebut inflasi. Perhitungan inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.

BPS menghitung inflasi dengan memperhitungkan Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK ini menghitung rata-rata perubahan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa menyebabkan turunnya nilai uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

IHK sendiri dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran yaitu:


Penyebab Inflasi

Ada beragam faktor yang dapat mendorong terjadinya inflasi. Mulai tingginya permintaan akan sejumlah barang hingga jumlah uang beredar. Berikut di antaranya, sejumlah faktor yang dapat mendorong terjadinya inflasi.

Dampak Inflasi

Dampak inflasi terutama bisa dirasakan oleh mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Kenaikan harga yang tidak didukung oleh kemampuan daya beli bisa mengakibatkan efek yang berkepanjangan. Standar hidup dapat menurun dan masyarakat miskin bisa semakin miskin.

Inflasi juga dapat mengganggu aktivitas konsumsi, produksi, dan investasi masyarakat sehingga menurunkan pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika muncul efek spekulasi seperti aktivitas menimbun barang hingga membeli valuta asing.

Namun dampak inflasi tidak selalu negatif. Inflasi yang terkendali dapat menggerakkan kegiatan perekonomian warga. Saat permintaan barang dan jasa naik, para pengusaha terdorong untuk memperluas produksi hingga membuka lapangan kerja baru.

Jenis-jenis Inflasi

Ada beragam jenis inflasi, yang masing-masing tingkatannya juga memiliki dampak yang berbeda. Berdasarkan tingkatannya inflasi terbagi menjadi:

Mengenal Deflasi

Selain inflasi kita juga sering mendengar istilah deflasi. Dilansir dari laman BI deflasi simpelnya adalah kebalikan dari inflasi, yakni penurunan harga barang secara umum dan terus menerus. Sementara dari OJK Pedia, deflasi bisa diartikan keadaan yang menunjukkan daya beli uang meningkat dalam masa tertentu karena jumlah uang yang beredar relatif lebih kecil daripada jumlah barang dan jasa yang tersedia.

Sekilas kita mungkin akan beranggapan kondisi ini menguntungkan karena harga-harga jadi lebih terjangkau. Namun ternyata deflasi juga memiliki sisi negatif.

Dampak Deflasi

Jika penurunan harga berlangsung secara drastis dan terus menerus, produsen dapat mengalami kerugian karena keuntungan hasil penjualan tidak sanggup menutup biaya produksi. Ketika beban produksi semakin tinggi, produsen akan berusaha untuk memangkas ongkos produksi demi kelangsungan usaha. Tidak jarang hal ini berujung pada tingginya potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menghemat ongkos produksi.

Kegiatan perekonomian bisa menurun, investor enggan menaruh modal karena kegiatan jual beli yang melesu.

Penyebab Deflasi

Penyebab deflasi bisa beragam. Salah satunya adalah terlalu banyak barang sejenis yang diproduksi dalam waktu bersamaan. Semakin banyak pasokan barang di pasar, harga pun akan semakin murah. Pendorong lain terjadinya deflasi adalah penurunan permintaan di pasar. Saat kondisi perekonomian menurun, masyarakat cenderung berhemat. Saat permintaan menurun, sementara barang atau jasa membludak di pasaran, harga pun akan cenderung turun.

Kebijakan bank sentral juga bisa menjadi pemicu terjadinya deflasi. Misalnya ketika ada kebijakan tentang suku bunga yang mendorong masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank. Ketika banyak yang memilih untuk menyimpan uang di bank, kegiatan belanja masyarakat menurun, permintaan barang dan jasa pun ikut menurun, uang yang beredar di masyarakat pun semakin sedikit sehingga memicu deflasi.

Dinamika perekonomian membuat baik inflasi maupun deflasi bisa terjadi di semua negara, tak hanya negara berkembang, tetapi juga terjadi di negara maju. Kondisi ini memang sulit dihindari, pengambil kebijakan hanya bisa melakukan upaya-upaya sebatas mengurangi dan mengendalikan nilainya.